Sasana Wiratama Diponegoro

Sasana Wiratama Diponegoro Yogyakarta Dan Sejarahmya

Sekilas Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro lahir di Keraton Yogyakarata pada tanggal 11 November 1785 yang merupakan anak dari Sri Sultan Hamengku Buwono III dengan selir Raden Ayu Mangkorowati, putri Bupati Pacitan. Raden Mas Ontowiryo merupakan nama kecilnya dan beliau dalam kehidupannya lebih memilih tertarik kepada agama dan berbaur dengan masyarakat sehingga memilih meninggalkan istana dan tinggal di Desa Tegalrejo.

Pada masa Keraton Yogyakarta di bawah kepemimpinan Hamengku Buwono V pada tahun 1822. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui sistem pemerintah yang di pegang oleh Patih Danurejo yang bekerjasama dengan Reserse Belanda.

Salah satunya adalah mengizinkan Belanda untuk membangun jalan yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Pembangunan jalan tersebut ternyata melewati halaman rumah beliau ( sekarang rel kereta api ) dan dibangun tanpa meminta izin dengan Pangeran. Dan akhirnya mendapatkan perlawanan dari Pageran dan laskarnya. Mendapati perlawanan tersebut Belanda menganggap merupakan suatu bentuk pemberontakan dan berniat segera menangkap Pangeran Diponegoro.

Akhirnya pada tanggal 20 Juli 1825 pasukan Belanda mengepung rumah beliau. Merasa terdesak akhirnya Pangeran Diponegoro dan pasukannya menyelamatkan diri menuju ke arah barat sampai Desa Dekso Kabupaten Kulonprogo. Selanjutnya meneruskan perjalanan ke arah selatan sampai akhirnya tiba di Goa Selarong yang berjarak 5 km dari kota Bantul. Sementara itu Belanda yang gagal menangkap Pangeran Pangeran, membakar rumah kediaman beliau.

Goa Selarong yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul akhirnya menjadi tempat sementara menyusun strategi serangan melawan Belanda. Pangeran menempati goa bagian barat yang bernama Goa Kakung. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih ( selir yang setia menemani Pangeran setelah 2 istrinya wafat ) dan para pengiringnya menempati Goa Putri yang berada di sebelah timur.

Perang Diponegoro tertulis dalam buku sejarah karangan penulis Belanda menyebut sebagai Perang Jawa atau Java Oorlog. Dalam perang tersebut Belanda banyak mengalami kerugian. Pasukan yang tewas sebanyak 15 ribu orang dan menghabiskan dana sebanyak 20 juta Golden

Sejarah Pembuatan Monumen Sasana Wiratama Diponegoro

Merupakan monumen untuk mengenang perjuangan Pangeran Diponegoro yang berjarak 4 km dari kota Yogyakarta dengan luas areal 2,5 Ha. Berawal dari sebuah petilasan yang awalnya dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang diserahkan oleh ahli waris Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Kanjengteng Diponegoro bersama Nyi Hadjar Dewantara dan Kanjeng Radeng Tumenggung Purejodiningat untuk dikelola dan dijadikan monumen.

Selanjutnya petilasan yang berada di tanah milik keraton ini mulai tahun 1968 – 1969 dibangun sebuah monumen pada bangunan pringgitan yang menyatu dengan pendopo. Pembangunan monumen ini sebelumnya di prakarsai oleh Mayjen Surono yang waktu itu sebagai Panglima Kodam dan selanjutnya diresmikan oleh Presiden Suharto yang dinamakan Wiratama yang artinya tempat prajurit.

Monumen Sasana Pangeran Diponegoro dibangun dengan panjang 20 m dan tinggi 4 m yang merupakan pahatan relief pada dinding pringgitan. Relief tersebut menceritakan situasi Desa Tegalrejo yang damai sampai terjadinya perang Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda hingga akhirnya tertangkap di Magelang. Monumen ini dipahat oleh beberapa seniman patung seperti Drs Saptoto dari Akademi Seni Rupa Indonesia ( ASRI ) dibantu oleh beberap seniman lainnya seperti Sutoto, Askabul dan Sokodiharjo. Pada sisi monumen sebelah barat terdapat lukisan diri Pangeran Diponegoro dan pada sebelah sisi timur monumen terdapat lukisan Pangeran waktu menunggang kuda hitam yang siap berperang.

Kalau ditelusuri setelah masuk gerbang utama, dan berjalan memutar kearah barat, pendopo ini dikelilingi oleh museum, perpustakaan, mess dan tembok yang jebol. Peninggalan yang cukup banyak menarik perhatian adalah tembok jebol, padasan ( tempat berwudhu Pangeran ) di depan pendopo dan batu Comboran ( tempat makan dan minum kuda Pangeran ) di sebelah tenggara pendopo. Sebuah tembok yang jebol menjadi saksi bisu kejadian pada waktu itu tempat tersebut dikepung oleh pasukan Belanda.

Laskar yang pada waktu itu dipimpin Joyomustopo dan Joyoprawiro terdesak mundur masuk ke dalam tembok tersebut. Untuk menyelamatkan pasukan dan keluarganya, akhirnya Pangeran Diponegoro memilih menjebol tembok sisi Barat tempat tersebut. Selanjutnya seluruh pasukannya mundur menjauh ke barat. Sebuah keputusan yang tepat untuk menyusun strategi dan tetap mengobarkan api semangat kepada pasukannya.

Dapat ditemukan juga patung Letjend Urip Soemohardjo yang bertuliskan “Orde. Contre-Orde. Desordre !” pada sisi timur dan patung Panglima Besar Jendral Sudirman yang bertuliskan “Jangan Lengah” di sisi barat. Setelah memasuki pintu gerbang akan kita lihat sebuah dinding setinggi 2 meter yang berbentuk menyerupai kubah masjid dan dibagian atasnya bergambar sosok raksasa sedang melawan seekor naga. “Makna dari gambar tersebut Butho Mekso Basuki ning Bawono yang berupa Suryo Sengkolo Memet, sengkalan yang mamakai gambar” ungkap seorang narasumber. Sengkalan yang telah diketahui artinya dibaca terbalik. Sengkalan yang artinya 5281 bermakna 1825 sebagai pertanda pecahnya perang Pangeran Diponegoro.

Barang Peninggalan Pangeran Diponegoro

Museum Pangeran Diponegoro yang terletak di kompleks mempunyai koleksi sekitar 100 jenis barang-barang peningggalannya semasa hidup berjuang melawan penjajahan Belanda. Barang-barang tersebut sebagian besar merupakan koleksi senjata asli laskar Diponegoro. Koleksi lainya berupa koin, batu akik dan beberapa alat-alat rumah tangga.

Beberapa senjata yang menjadi koleksi museum tersebut seperti pedang, panah, keris, patrem, tombak, bandil (martil dari besi), patrem (senjata prajurit perempuan), candrasa (senjata mirip tusuk konde) yang sering digunakan telik sandi atau prajurit perempuan yang menjadi mata-mata. Terdapat juga sepasang meriam didepan dan sebuah meriam di sebelah timur museum.

Sejumlah alat rumah tangga buatan tahun 1700-an yang terbuat dari besi kuningan untuk tempat daun sirih dan “kecohan”nya (tempat membuang ludah), canting (tempat membatik), teko “bingsing”, bokor, dan kacip (alat belah pinang untuk makan sirih)

Terdapat juga sebuah patung Ganesha yang berukuran kecil, sepasang patung loro blonyo, tali kuda untuk menarik kuda pemberian Sultan HB VIII dan lampu hias. Koleksi lainnya berupa seperangkat gamelan buatan tahun 1752 milik Sultan HB II yang terdiri dari ketipung (gendang kecil) dan wilahan boning penembung yang dibuat dari kayu dan perunggu berwarna kuning dan merah. Semua wilahan dan besinya masih asli, hanya pada kayu gamelan yang terbuat dari kayu yang kayunya sudah diganti karena sudah lapuk dimakan usia.

Peninggalan lainya berupa sebuah Kitab Suci Al Qur’an, teko, cangkir, jubah pangeran dan 4 kursi dan satu meja. Peninggalan lainya yang tidak tersimpan disini adalah Pelana Kuda dan Tombak yang tersimpan di Museum Satria Mandala Jakarta dan sebuah keris yang sampai saat ini masih dipinjam oleh Belanda.

Karena dalam kurun waktu 5 tahun belum bisa menangkap Pangeran Diponegoro maka Belanda mulai menggunakan taktik, dimulai dari menjanjikan bagi siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro akan diberi imbalan sebesar 50.000 Golden. Berikut ini serangkaian sejarah yang mengiringi perjalanan seorang pejuang besar Pangeran Diponegoro.

  • Pada tanggal 16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro diajak berunding Belanda di Magelang oleh Kolonel Cleerens, ajakan tersebut disetujui sang Pangeran.
  • Pada tanggal 28 Maret 1830 Pangeran Diponegoro dan Laskarnya menemui Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock. Dalam perundingan tersebut Belanda memaksa Pangeran untuk menghentikan perlawanan kepada Belanda. Permintaan tersebut ditolak oleh Pangeran. Belanda tersebut ternyata sebelumnya menyiapkan taktik melalui Kolonel Du Perron untuk selanjutnya melakukan penyergapan dan menagkap Pangeran Diponegoro dan laskarnya. Setelah berhasil ditangkap, hari itu juga Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang dan selanjutnya dikirim ke Gedung Karesidenan Semarang.
  • Pada tanggal 5 April 1830 Pangeran Diponegoro dibawa ke Batavia menaiki kapal Pollux.
  • Pada tanggal 11 April 1830 Gubernur Jenderal Van den Bosch memutuskan hukuman pengasingan untuk Pangeran Diponegoro, Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istrinya serta pengikut setia lainya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng dan Nyai Sotaruno ke Manado.
  • Pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponegoro dan rombangan dengan menggunakan kapal Pollux menuju Benteng Amsterdam untuk ditawan disana. Tetapi Belanda merasa Pangeran Diponegoro masih merupakan ancaman walaupun sudah ditawan karena ditempat itu masih bisa berhubungan dengan rakyatnya.
  • Pada tanggal 1834 Pangeran Diponegoro diasingkan secara terpisah. Pangeran dan Retnaningsih diasingkan ke Makasar Sulawesi Selatan di Benteng Roterdam.
  • Di Benteng tersebut Pangeran tidak bisa lagi bergerak bebas seperti sebelumnya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun berjalan. Pangeran menghabiskan hari-harinya bersama Retnaningsih.
  • Pada tanggal 8 Januari 1855 Pangeran Diponegoro mengembuskan nafas terakhirnya dan jasad beliau disemayamkan di Kampung Melayu Makasar berdampingan dengan makan Retnaningsih.

Lokasi

Jl. HOS Cokroaminoto TR III / 430 Tegal Rejo Yogyakarta 55244.

Akses

Untuk berkunjung ke tempat ini, anda harus menggunakan kendaraan pribadi karena jalur angkutan umum tidak melewati tempat ini.

Harga Tiket

Untuk memasuki monumen ini tidak ditentukan harganya, pengunjung hanya dikenakan biaya seikhlasnya dan sukarela.

Fasilitas

Fasilitas yang disediakan di tempat ini meliputi tempat parkir, guide, toilet dan kebetulan di dekat tempat ini tersedia banyak warung makan karena banyak tempat kost di wilayak ini. Terdapat juga Rumah Sakit Ludira Husada.